Kinoki Jalan Jalan
Pemutaran Film dan Ngobrol Bareng bersama Kinoki dan Lembaga Pers Mahasiswa UNY “Ekspresi” dalam rangka memperingati hari Perempuan Internasional
Boneka dari Indiana, sebuah film karya Nya Abbas Akup:
Komedi dan Perempuan
Tanggal : 08 Maret 2010
Jam : 18.30 s.d. selesai
Tempat : Ruang Sidang, Gedung Student Center lt.2, Universitas Negeri Yogyakarta
Menengok perempuan dalam komedi Indonesia seperti halnya menengok sesuatu yang bergerak lamban. Tidak banyak hal yang berubah dari sana. Rok mini, paha diumbar, lagak laku manja dan genit sebagai jualannya. Atau kalau tidak seperti itu adalah bodoh, lugu, mudah ditipu. Perempuan hadir dalam bentuk perempuan kota kaya, terdidik, punya sikap yang notabene adalah perempuan publik dan selalu dipertentangkan dengan perempuan rumahan (domestik) yang tidak terdidik, manutan, dan selalu kalah.
Dalam Boneka dari Indiana ini, ada dua perempuan yang hadir: satu perempuan domestik yang sangat berkuasa dan satu perempuan publik yang ternyata adalah simpanan seorang pengusaha. Kedua perempuan ini punya pengaruh sebenarnya tapi pada akhirnya posisi mereka ‘kalah’ juga oleh karakter laki-laki yang ada di situ.
Film ini secara lucu memotret peran perempuan yang ada di dalamnya. Lucu dan menyindir, bagaimana perempuan, mau seperti apapun dia pada akhirnya juga tidak ada apa-apanya di hadapan tokoh laki-laki. Hal itu berlanjut ke komedi Indonesia saat ini dengan perubahan yang tidak terlalu berarti untuk tidak menyebut tidak ada perubahan sama sekali.
Sinopsis
Boneka dari Indiana
Sutradara: Nya Abbas Akup
Pemain: Meriam Bellina, Lydia Kandou, Didi Petet, Ami Prijono
(fiksi/1990/94 menit/bahasa indonesia, tanpa teks)
Egi (Didi Petet) adalah seorang suami yang berada di bawah kekuasaan istrinya, Cece (Lydia Kandou), dalam segala hal, urusan kantor maupun urusan rumah. Lebih jauh lagi, Egi pun berada di bawah pengaruh mertuanya, Yudho (Ami Prijono). Demi sebuah proyek besar, Egi diperintah mendekati Eya (Meriam Bellina), wanita simpanan seorang pejabat berpengaruh. Perkenalannya dengan Eya membuat Cece cemburu, tapi juga membuat Egi sadar akan usaha mertuanya yang tidak peduli akan lingkungan. Ia mulai memberontak dan berhenti jadi boneka. Kehidupannya sebagai suami juga normal kembali.



