
“Melalui sains-fiksi, orang mencoba terlihat luar biasa di dunia yang biasa,” begitu pendapat Rod Serling, seorang produser acara sains-fiksi di Amerika, yang mencerminkan produksi mayoritas film sains-fiksi. Bukankah kita biasa mendengar produser menghabiskan jutaan dollar di efek visual, suara, kostum dan setting untuk mewujudkan visi yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya? Bahkan dengan bujet minim pun, pembuat film sains-fiksi lebih mengutamakan menampilkan setting dan kostum seeksotis mungkin. Tidak apa seadanya, yang penting film terlihat luar biasa, dan oleh karenanya sah dilabeli sebagai sains-fiksi. Pertanyaannya: bisakah film sains-fiksi keluar dari cara biasa untuk menghasilkan visi yang sama luar biasa¬-nya?
Oleh karena itu MariMenonton! di bulan Oktober ini menghadirkan tiga film sains-fiksi. Pertama adalah Metropolis, film bisu legendaris karya Fritz Lang. Film ini sering dianggap sebagai fondasi dari film-film sains-fiksi: setting yang mewah, robot, dan teknologi. Elemen-elemen tersebut diserap, dipelintir dan diparodikan dalam Metoroporisu, film animasi Jepang yang sebenarnya adaptasi komiknya Ozamu Tezuka. Hasilnya malah jadi tribut untuk filmnya Fritz Lang dan film sains-fiksi secara keseluruhan. Film terakhir adalah Primer, yang konon merupakan film sains-fiksi dengan bujet termurah sepanjang sejarah: $7000. Dengan cerita yang berlatar di kota kecil dan karakter yang berkostumkan kemeja kantoran biasa, film ini membuka kemungkinan bahwa sains fiksi tidak saja apa yang dilihat di mata, tapi juga apa yang ada di pikiran.
Dari sinema Indonesia, ada Kantata Takwa. Film ini merupakan dokumenter eksperimental yang dibuat berdasarkan konser Kantata Takwa di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1991. Karena sarat dengan kritik terhadap pemerintahan waktu itu, pembuatan film menghabiskan 18 tahun dan baru dirilis tahun 2008 kemarin. Selain itu, ada juga We Wanna Prove Who We Are!, dua volum kompilasi berisikan film-film pendek tugas akhir mahasiswa IKJ.
Dari Film Pendek Si Nama Besar, ada suguhan Ten Minutes Older: The Trumpet. Film ini adalah proyek bersama dimana tujuh sutradara terkenal (Aki Kaurismaki, Victor Erice, Werner Herzog, Jim Jarmusch, Wim Wenders, Spike Lee dan Chen Kaige) berkumpul dan masing-masing membuat film pendek tentang waktu. Pada bulan ini juga, ada pemutaran film terakhirnya Tati, Parade. Film ini menjadi bagian terkahir dari program Waktunya Franco-Cinéphile, yang sempat tertunda karena libur Lebaran.
Seri kelima sekaligus seri terakhir dari Kelas Terbuka: Apresiasi Film akan diadakan pada 10 Oktober 2009 dengan pembahasan Film dan Penulisan Kritik Film. Pengisi materinya adalah Eric Sasono, pendiri dan redaktur situs RumahFilm.org. Pendaftaran paling lambat 7 Oktober 2009 melalui email ke kinoki@kinoki.or.id
03 OKTOBER
Ruang Arsip Kinoki
19:30 - Parade
(fiksi/85 mnt/1974/bahasa prancis, teks inggris)
Sutradara: Jacques Tati
Dalam film terakhirnya ini, Jacques Tati berperan sebagai Monsieur Loyal yang memandu seruntutan acara dalam sebuah sirkus.
10 OKTOBER
Ruang Arsip Kinoki
16:00 - Kelas Terbuka #5: Film dan Penulisan Kritik*
19:30 - Metoroporisu
(animasi/108 mnt/2001/bahasa jepang, teks indonesia)
Sutradara: Rintaro
Ceritanya, di masa depan, robot dan manusia hidup bersama. Kebanyakan robot dibatasi tinggal di bawah tanah, diharuskan mengerjakan pekerjaan buruh, dan dilarang masuk ke daerah manusia. Sementara manusia tinggal di atas, dengan beberapa robot pilihan. Suatu ketika seorang anak laki-laki jatuh ke bawah tanah, dan melihat robot cantik bernama Tina. Masalah pun mulai bermunculan.
17 OKTOBER
Ruang Seminar
16:00 - Primer
(fiksi/77 mnt/2004/bahasa inggris, teks inggris)
Sutradara: Shane Carruth
Empat sekawan, selepas jam kerja, berkumpul di garasi dan mencoba mengutak-atik mesin. Suatu hari seseorang dari mereka kalau mesin itu tanpa sengaja berubah fungsi jadi mesin waktu. Meski sebenarnya masih tidak stabil, hasil tes menunjukkan kalau waktu memang bisa dihentikan dalam mesin itu. Selanjutnya tentu saja: rencana cepat kaya, dan segala komplikasinya.
19:30 - Film Pendek Si Nama Besar: Ten Minutes Older
(total durasi 92 mnt/2002/berbagai bahasa, teks inggris)
Kompilasi tujuh film pendek dari tujuh sutradara terkenal—Aki Kaurismaki, Victor Erice, Werner Herzog, Jim Jarmusch, Wim Wenders, Spike Lee dan Chen Kaige. Semuanya bicara tentang satu hal: waktu.
24 OKTOBER
Ruang Arsip Kinoki
19:00 - Ayo Ngobrolin Film: Metropolis**
(fiksi/114 mnt/1927/film bisu)
Sutradara: Fritz Lang
Pada tahun 2026, manusia terbagi ke dalam dua kelompok: pemikir dan pekerja. Johan, salah satu pemikir, suatu kali menyusup ke daerah pekerja. Di sana ia bertemu Maria, dan jatuh cinta dengannya. Bersama mereka merencanakan revolusi untuk memperbaiki kondisi lingkungannya. Namun, kelompok pemikir punya rencana lain: sebuah robot untuk menyetir kelompok pekerja.
27 OKTOBER
Amfiteater Taman Budaya Yogyakarta
19:00 - Kantata Takwa
(dokumenter/95 mnt/2008/bahasa indonesia)
Sutradara: Eros Djarot, Gotot Prakosa
Film ini merupakan kolase kesaksian para seniman Indonesia tentang masa represif Orde Baru, sebuah masa yang diwarnai dengan penangkapan tokoh-tokoh yang berlawanan dengan pemerintah. Termasuk dalam kesaksian adalah W.S. Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, Jackie Surjoprajogo dan Setiawan Djodi.
31 OKTOBER
Ruang Seminar
16:00 - We Wanna Prove Who We Are!, Volum 1
(total durasi 75 mnt/bahasa indonesia)
Setelah beberapa tahun belajar film, mahasiswa Fakultas Film Dan Televisi IKJ ingin menunjukan kepada masyarakat umum karya yang mereka gunakan sebagai tugas akhir. Pemutaran ini bertujuan sebagai perkenalan diri mereka kepada masyarakat umum, karena pada akhirnya mereka juga yang akan melanjutkan perfilman Indonesia.
1. Gadis (2009/15 mnt)
2. Purnama di Pesisir (2009/15 mnt)
3. Tubuhku Bukan Nafsu (2009/16 mnt)
4. CINtA (2009/28 mnt)
19:30 - We Wanna Prove Who We Are!, Volum 2
(total durasi 81 mnt/bahasa indonesia)
1. Bunga Matahari (2009/14 mnt)
2. Nemesis (2009/14 mnt)
3. This is Bulshit (2009/15 mnt)
4. Sabotase (2009/15 mnt)
5. Kabar Gembira (2008/23 mnt)
* biaya pendaftaran Rp. 35.000. Pendaftaran ditutup ketika kuota terpenuhi/sehari sebelum jadwal ditutup
** wadah bulanan Kinoki untuk menonton dan mengobrol bebas soal film